Usus Buntu Part 6

Kemudian tetehku menghubungi dokter kenalannya yang suaminya kerja di ruang OK (operasi). beberapa menit kemudian, ia mengabarkan pada kamibahwa besok jam 8 langsung operasi di RSUD.

“puasa 6 jam sebelum operasi.” pesan dokter untukku.

Percaya ga percaya, kenapa begitu cepat? baru selesai cek USG hari ini, besoknya operasi. aku hanya pasrah. Kuliah dan segala yang berhubungan tentangnya untuk sementara disimpan dalam tas. Tiba2 ingat, hari sabtu ada presentasi, ku buka laptop, menyelesaikan bahan untuk presentasi. Segeraku ambil HP dan mengsms teman kosanku. Aku kabari padanya bahwa besok akan operasi dan ga kuliah sampai sembuh. Kerabat dan juga para sahabat memang tidakku beritahu, karena tidak ingin membuat heboh.  Waktu sudah menunjukkan pukul 11 p.m, ku sempatkan untuk membuka FB. 

“teman2 mohon do'anya ya, sodari kita mbak nurhasni fadillah insya Allahakan menjalani operasi usus buntu besok....semoga operasinya bisa lancar :)”

Ternyata temen kosanku ngepost di grup Calon hafidzoh.Terharu.  Pada saat itu, agak mensesalkan juga kenapa dia posting berita itu. kan jadi ketahuan banyak orang. Tapi setelah dipikir2, semakin banyak yang mendoakan kan semakin baik. Lalu, sebelum tidur ku sempatkan untuk makan, perbekalan untuk operasi besok. Selesai makan, duduk sebentar memberikan waktu makanan turun.

“Bismillah semoga operasi besok lancar” ucapku sebelum tidur.

Kamis, 7 maret 2013

Setelah sholat shubuh, aku menyiapkan apa2 yang akan kubawa. Baju ganti, rok, kerudung, Al Qur’an. Laptop sengaja ku tinggal, karena belum terpikir apakah bisa main laptop setelah operasi atau ga (masih sempet2nya mikirin laptop, hehe). Setelah itu, mandi dan sarapan pagi. Ketika semua sudah siap, semua adik2ku berangkat sekolah. Papa, mama, teteh, dan aku menujuke RSUD. 

Jam 8.15 di ruang tunggu seperti biasa sudah penuh. Paman juga sudah datang menunggu kami. Kemudian mama mendaftar di bagian pendaftaran. Tetehku masuk ruangan poli bedah, mencari perawat dokter bedah. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu. Kamipun di pandu menuju ruang operasi. Kami diminta menunggu di depan dan perawat itu masuk ke ruang OK, tidak lama kemudian ia keluar.

“cek darah dulu ya mbak. ayo ikut saya” ucap perawat itu menyuruhku mengikutinya

Setelah memasukkan berkas, aku diminta untuk menunggu. Cukup lama menunggu, akhirnya aku masuk. Entahlah perawat atau dokter yang menyuntikkan jarum di lengan kananku. Setelah darah diambil, dia berkata, “hasil keluar maksimal 2 jam, tunggu diluar ya mbak”.

2 jam? Aku menurut saja. Padahal, perut sudah memukul gong. Lapar. Terpikir untuk makan, tapi waktunya terlalu sempit. Ku langkahkan kaki menuju depan ruang OK, untuk berkumpul bersama keluarga. 

“hasilnya keluar maksimal 2 jam lagi mah, pah. laper ya.”
“yaudah sabar aja, kalo makan sekarang, operasinya di undur. karena syaratnya 6 jam sebelum operasi” seru teteh

Mama ikut khawatir, karena aku puasa sudah lebih dari 6 jam. Mungkin ia benar, bersabar adalah solusinya. Dalam hati, berkata “andai aku niat puasa dari semalam ya, meski lapar tapi berpahala”. Karena berandai2 itu dibenci allah, ku tepis jauh2 pikiran itu. 45 menit berlalu, ternyata hasilnya belum keluar. Memang, kondisi RS hari itu ramai sekali, banyak yang melakukan tes darah. Untuk menghilangkan kebosanan, kami jalan2 ke kantin karena teteh lapar, sementara Papa dan hani jalan2 di halaman RS. Melihatnya makan soto membuatku sedikit mupeng. 

“ntar abis operasi, mama buatin soto” ucap mama menenangkanku.

aku hanya tertawa, mana ada abis operasi bisa makan soto.yang ada bubur tanpa rasa.

Pada menit ke 90, perawat mengabari bahwa hasil tes darah sudah keluar dan dari hasilnya memenuhi syarat untuk operasi. Bersama keluarga, aku diantar masuk ke ruang OK. Ruang OK banyak pintunya, semakin ke dalam semakin menyeramkan. Keluarga hanya boleh mengantar pada pintu masuk pertama.Kemudian aku diminta untuk ganti baju operasi di ruang ganti. Semua juga tau, baju operasi berlengan pendek dan seperti daster yang menutupi hingga setengah kaki orang dewasa. 

“mbak, saya tetep pakai kerudung ya.” pintaku dengan cemas
“maaf mb, kerudungnya tidak steril. nanti kita kasih penutup kepala khusus operasi” jawab perawat itu tanpa basa basi sedikitpun.

Resmi sudah, baju operasi dan penutup kepala sudah terpasang di tubuhku. Ironi sekali. Aku hanya pasrah padaNya. Kemudian aku di giring kepintu kedua. Sebelum itu ku lihat mama, mukanya cemas dan penuh do’a, begitu juga yang lainnya. aku mencoba membuang semua ironi dengan senyum. Semua do’a ku lantunkan, semoga operasi berjalan dengan lancar. Beberapa perawat datang, memberi infus. Selama hidup, untuk pertama kalinya di infus. Setelah infus terpasang, aku di minta untuk masuk ruang operasi. Awalnya, ku pikir menyeramkan. Tapi ternyata tidak. Suara musik menggema diruangan itu. Sejenak ku berpikir, ini ruang operasi atau tempat rekreasi.

bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

Kolam Renang Khusus Wanita di Bogor