Usus Buntu Part 1
tulisan ini, hanya niatan penulis untuk berbagi. mungkin dari teman2 ada yang sedang mengalami. ambil manfaatnya aja ya. kejadian ini di abadikan dalam tulisan per April 2013 di FB, yang kemudian saya pindahkan kesini.. mnjadi berkas hidupku. hehe
Satu bulan dua minggu yang lalu, tepatnya pada hari Ahad/Minggu. Aktivitas berjalan dengan lancar sampai ketika sore menjelang. Sambil menunggu anak2 alburuuj datang, ku sempatkan tuk mampir ke rumah ibu kosan yang dulu. setengahjam berlalu, anak2 itupun tak kunjung datang, akhirnya ku putuskan untuk meniadakan les. Saat sedang asyiknya bercerita bareng ibu kosan tiba2 ada rasa sakit di perutku. Awalnya ku pikir itu sakit maagh, mengingat hari itu jadwal makan agak berantakan. Ibu kosan memberiku air hangat kemudian kami melanjutkan obrolan, sakitpun tak kunjung reda. Sakitnya itu diseluruh perut, kalau jalansakit, seperti ada beban berat dalam perutku. Magribpun tiba dan aku memutuskan untuk pulang ke kosan. Jam 7 p.m, sakit itupun masih menetap diperutku. akhirnya aku ambil handphone dan mengsms tetehku. Dia seorang bidan.
“teh, perut dilah kok sakit ya? dari jam 5 tadi sore.”
ia pun membalas, ”sakitnya disebelah mana. coba diteken2perutnya. terus di lipat kaki kanannya. sakit apa ga?”
aku mencoba apa yang ia sarankan. Entahlah karena aku terlalu bodoh tentang hal ini. aku tidak menemukan bagian mana yg sakit banget., yang kurasa seluruhperut sakit. namun ketika kaki kanan ku lipat, rasa sakitnya bertambah. aku membalas smsnya apa2 yg kurasa, kemudian ia bilang,” kemungkinan besar itu usus buntu dek. periksa ke dokter sekarang atau gak besok”.
Karena sudah malam dan malas untuk keluar, aku memutuskanuntuk tetap di kosan. Beberapa menit kemudian ia menelponku, ternyata dia sudah bertanya dengan dokter yang dia kenal, katanya aku positif usus buntu dan harus di operasi. Tuing2. hah? apakah tidak terlalu cepat memvonis pasien? zzZZ dalam setengah tidak percaya, aku tidak mengindahkan sarannya untuk pergi ke dokter. Jam terus berjalan, pada pukul 22.00 wibpun perutku masih sakit. Tiba2 telpon bordering, ternyata mama. Aku sengaja tidak memberitahunya, karena takut membuatnya khawatir. Tapi tetehku yang memberitahunya.
“dil, lagi apa? kata teh nong perutnya sakit ya.”
“iya mah..mungkin besok dah sembuh”
mamaku terus bertanya sampai detail apa yg kurasa, kemudian ia menduga itu hanya akibat dari kelelahanku, mengingat aktivitas setiap minggu yang padat.Mama bilang untuk mengangkat kaki ke dinding dan mengurut perut pelan2 dengan minyak urut. aku menuruti sarannya, reda sih sakitnya namun masih tetap terasa.
keesokan harinya…
senin jam 7 a.m, aku siap2 menuju kampus, karena jadwal ngasdos basprog. Dengan terburu2 karena kesiangan, pada saat itu tak ada rasa sakit. akhirnya aku berkesimpulan, sakit yang kemarin malam mungkin hanya akibat kecapean saja sehingga tak perlu repot2 untuk ke dokter (sayang uangmas, mbak :D). mama mengsmsku menanyakan kabar. ku balas smsnya bahwa aku sudah sembuh. mamapun lega. beberapa jam kemudian tetehku sms juga menanyakan kabarku,aku jawab hal yang sama. Namun reaksi ia berbeda (mungkin karena ia mengerti tentang hal2 kesehatan), ia malah memarahiku dan tetap memaksaku untuk ke dokter. dengan agak terpaksa,akupun menurutinya.
Tapi tidak hari itu ke dokternya, esok harinya baru kusempatkan ke klinik. Awalnya mau check-up ke dokter bedah tapi lagi2 sayang uang (hehe). sampainya di klinik, dokter yang menemuiku adalah dokter umum(wanita). ia menanyakan apa masalahnya dan aku memaparkan apa yang telah kualami. Ia pun segera memintaku untuk berbaring dikasur periksa. Ia memeriksa detak jantung dan perutku. kemudian ia menekan perutku agak keras. Rasa sakit yang sudah hilangpun kembali terasa. jadi agak menyesal karena dokter hanya membuat rasa sakit itu datang lagi. Air mukaku menjadi masam. kemudian ia menulis surat rujukan ke RS, katanya aku harus di USG untuk memastikan penyakit apa. USG? dalam hati “kayak orang hamil aja mesti di USG segala”. Kondisinya memang sudah tidak sakit, tapi kalau ditekanya sakit. Jadi dokter belum bisa menyimpulkan.
Berbekal surat rujukan, bersama mio tersayang menuju RS Azra Bogor yang jaraknya tidak begitu jauh dari klinik. Pikiran macam2 memenuhi ruang otak, takut ini takut itu, membayangkan di USG udah geli duluan. maklum saya ‘geli-an’. Nelangsanya tak ada teman sehingga menjadi sebatang kara saat itu. Masuk, nyari2 parkir motor dan masuk mendatangi mbak2 di front office.
“silahkan langsung membuat janji di ruang radiologi”, ucap mbaknya sambil menunjuk sebuah loket.
ku hampiri, ternyata tak ada petugasnya. kebetulan adabangku, akhirnya aku duduk dan baru sadar ternyata orang2 disekitarmemperhatikanku. sontak jadi khawatir dikira hamil (muka masih muda bro). Pura2 biasa saja, mata ku arahkan ke atas bawah kanan, saat di kanan pas di depan loketnya ada tulisan “orang hamil dilarang masuk”. Tulisan itu membuatku lega.Aha!
bersambung...
Comments
Post a Comment